Selasa, 16 Juli 2013

Konservasi Arsitektur 2 (Arsitek Belanda)


Arsitek Belanda


CHARLES PROSPER (C.P.) WOLF SCHOEMAKER (1882-1949)



Biografi....

     Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, dekat Salatiga, Jateng pada th. 1882. Pendidikan sekolah menengahnya diselesaikan di Nijmegen (1897-1902). Antara tahun 1902 sampai th. 1905 ia memasuki akademi militer di Breda. Setelah tamat dengan pangkat sebagai letnan, ia bekerja pada corp zeni angkatan darat kerajaan Belanda. Dia bekerja untuk membangun jalan kereta api dan jaringan telegraph di Selatan distrik Preanger-Jabar, kemudian pada th. 1908-1910 ia dipekerjakan di Padang (Sumatra Barat) dan akhirnya pada tahun 1910-1911 ia ditempatkan dimarkas besar corps nya di Batavia. Pada tahun itu juga rupanya ia mengakhiri kariernya secara resmi di angkatan darat kerajaan Belanda.

         Riwayat hidup Schoemaker penuh dengan gejolak dan pengalaman yang kaya sebagai seorang arsitek. Oleh sebab itu julukan yang diberikan kepadanya antara lain seperti : insinyur zeni angkatan darat, pemahat, arsitek dan prosefor arsitektur (dalam bidang pendidikan). Pengalaman pekerjaannya selama 35 tahun terbentang luas, mulai dari insinyur zeni angkatan darat di Jawa dan Sumatra, sebagai arsitek pemerintah Hindia Belanda, sebagai arsitek “private” dan sebagai guru besar arsitektur di SekolahTinggi Teknik Bandung (sekarang ITB).

       Setelah tiba di Hindia Belanda pada th. 1918, Schoemaker memilih Bandung sebagai tempat kerja, serta tempat tinggalnya. Waktu Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang dirancang oleh Maclaine Pont dibuka th. 1921, ia mengajar sebagai dosen sejarah arsitektur disana dan pada th. 1924 Schoemaker diangkat sebagai profesor (guru besar) arsitektur. Gelar tersebut terus dipegangnya sampai th. 1941.

         Disamping sebagai guru besar Schoemaker juga mempunyai biro arsitek yang namanya sangat terkenal yaitu: “C.P. Schoemaker en Associate Architecten en Ingenieurs”. Ir, Sukarno (Presiden pertama R.I.) pernah bekerja sebagai juru gamba pada kantor Schoemaker di Bandung (Kunto, 1996:40). Ia meninggal pada th. 1949 dalam usia 67 tahun di Bandung. Jenasahnya juga dimakamkan di pemakaman umum Cikutra Bandung.

Karya-Karya Schoemaker.

         Pengalamannya yang sangat luas selama 35 tahun sebagai seorang arsitek meninggalkan perpuluh-puluh bahkan mungkin ratusan bangunan yang tersebar di berbagai kota Indonesia. Banyak sekali karya Schoemaker yang sampai sekarang menjadi “landmark” lingkungan kota-kota besar di Jawa.

Diantara banyak karya Schoemaker bisa disebutkan antara lain:

1. Penjara Sukamiskin-Bandung th. 1919
2. Gedung Jaarbeurs – Bandung th. 1927.
3. Koloniale Bank – Surabaya th. 1927
4. Hotel Preanger – Bandung th. 1930
5. Mesjid Cipaganti – Bandung th. 1933
6. Gereja Santo Petrus – Bandung th. 1922
7. Villa Isola – Bandung th. 1933
8. dan sebagainya.


Bentuk Design..

         Gaya desainnya selalu berubah. Tapi peruabahan yang mencolok terjadi setelah ia pulang dari Amerika pada th. 1918. Rupanya bentuk arsitektur modern di Amerika sangat mempengaruhinya. Terutama sekali adalah gaya dari Frank Lloyd Wright, arsitek Amerika yang terkenal pada saat itu. Hal ini bisa dilihat dari karya – karyanya seperti gedung Koloniale Bank di Surabaya dan hotel Preanger di Bandung, dimana garis-garis dominan yang sejajar dengan tanah, serta detail-detail geometris kelihatan sangat dominan sekali, yang merupakan ciri khas Frank Lloyd Wright.

        Tapi setelah tahun 1930 an desain dari Schoemaker rupanya telah menemukan bentuknya sendiri. Villa Isola, yang dirancang pada th. 1933 merupakan salah satu karya puncaknya. Perancangan tersebut cocok dengan jiwanya yang penuh romantisme dan petualangan. Villa Isola di Bandung tersebut sering disebut sebagai salah satu karya arsitektur modern dengan gaya “Art Deco” yang berhasil di dunia.


Contoh Bangunan......


Villa Isola – Bandung th. 1933

         Gedung ini berarsitektur modern dengan memasukkan konsep tradisional dengan filsafat arsitektur Jawa bersumbu kosmik utara-selatan seperti halnya Gedung Utama ITB dan Gedung Sate. Orientasi kosmik ini diperkuat dengan taman memanjang di depan gedung ini yang tegak lurus dengan sumbu melintang bangunan kearang Gunung Tangkuban Perahu.



              Bangunan berlantai tiga, dengan lantai terbawah lebih rendah dari permukaan jalan raya, disebabkan karena topografinya tidak rata. Ranah sekeliling luas terbuka, dibuat taman yang berteras-teras melengkung mengikuti permukaan tanahnya. Sudut bangunan melengkung-lengkung membentuk seperempat lingkaran. Secara keseluruhan bangunan dan taman bagaikan air bergelombang yang timbul karena benda jatuh dari atasnya, sehingga gedung ini merupakan penyesuaian arsitektural antara bangunan terhadap lingkungan. 




Pintu gerbang masuk ke komplek villa ini terbuat dari batu yang dikombinasikan dengan besi membentuk bidang horisontal dan vertikal. Setelah melalui gapura dan jalan aspal yang cukup lebar, terdapat pintu masuk utama yang dilindungi dari panas dan hujan dengan portal datar dari beton bertulang. Mengikuti lengkungan-lengkungan pada dinding, denah portal juga melengkung berupa bagian dari lingkaran pada sisi kanannya. Ujung perpotongan kedua lengkungan disangga oleh kolom tunggal yang mirip dengan bagian rumahToraja (tongkonan). Setelah melalui pintu utama terdapat vestibulae sebagaimana rumah-rumah di Eropa umumnya.

Ruang penerima ini terdapat di balik pintu masuk utama selain berfungsi untuk tempat mantel, payung tongkat dan lain lain juga sebagai ruang peralihan antara ruang luar dengan ruang di dalam. Dari vestibula ke kiri dan ke kanan terdapat tangga yang melingkar mengikuti bentuk gedung secara keseluruhan. Tangga ini terus-menerus sampai ke atap .







Di atasnya adalah lantai satu yang langsung dicapai dari pintu masuk utama. Pada lantai ini, di belakang vestibule terdapat hall cukup besar, permukaannya sedikit lebih rendah, karena itu dibuat tangga menurun. Kemudian setelah tangga langsung ke salon atau ruang keluarga yang sangat luas. Antara hall dan salon dipisahkan oleh pintu dorong sehingga bila diperlukan, kedua ruangan ini dapat dijadikan satu ruang yang cukup luas. Jendela pada ruangan ini juga mengikuti dinding yang berbentuk lingkaran sehingga dapat leluasa memandang kota Bandung. Ruang makan terletak di sebelah kiri (barat) salon. 


Di sebelah kanan (timur) ruang makan terdapat ruang kerja lengkap dengan perpustakaan dan ruang ketik di belakangannya (utara). Semua ruang berjendela lebar kecuali untuk menikmati pemandangan luar, juga sebagai ventilasi dan saluran sinar matahari. Pembukaan jendela, pintu yang lebar merupakan penerapan konsepsi tradisional yang menyatu dengan alam.







Bangunan ini ada tendensi horisontal dan vertikal yang ada pada arsitektur India yang banyak berpengaruh pada candi-candi di Jawa. Dikatakannya dalam arsitektur candi maupun bangunan tradisional, keindahan ornamen berupa garis garis molding akan lebih terlihat dengan adanya efek bayangan matahari yang merupakan kecerdikan arsitek masa lampau dalam mengeksploitasi sinar matahari tropis.

Schoemaker banyak memadukan falsafah arsitektur tradisional dengan modern dalam bangunan ini. Secara konsisten, ia menerapkannya mulai dari kesatuan dengan lingkungan, orientasi kosmik utara selatan, bentuk dan pemanfaatan sinar matahari untuk mendapat efek bayangan yang memperindah bangunan.


Sumber : By Internet












Minggu, 10 Maret 2013

Konservasi Arsitektur (Toko Merah, Jakarta)


Toko Merah , Jakarta Barat 



                    Gedung tua sebagai saksi kejayaan Batavia lama di tepian Muara Ciliwung. Bangunan tersebut pernah menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal von Imhoff (1705-1751). Bangunan Toko Merah terletak di Jl. Kali Besar No. 11, Jakarta Barat. Secara administratif berada di Kelurahan Roa Malaka, Kec. Tambora, Wilayah Kota Jakarta Barat. Letak bangunan pada masa kejayaan VOC sangat strategis, berada di kawasan jantung kota asli Batavia, berdekatan dengan pusat pemerintahan VOC (Stadhuis). Dari segi bisnis, Toko Merah justru terletak di tepi barat Kali Besar (de Groote River), sebagai "central business district" nya Batavia. Pada saat itu Ciliwung merupakan urat nadi lalu lintas air yang ramai dilayari hingga ke pedalaman. Kawasan Kali Besar sendiri merupakan salah satu wilayah hunian elit di dalam Kota Batavia.



Sejarah Toko Merah: Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff (kemudian menjadi gubernur jenderal) sebagai rumah tinggal. Pada saat ia membangun Toko Merah jabatannya masih sebagai opperkopman, sehingga kadangkala orang meragukan bahwa Toko Merah dibangun van Imhoff. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama "Toko Merah" berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Cina, Oey Liauw Kong sejak pertengahan abad ke-19 untuk jangka waktu yang cukup lama. 

Nama tersebut juga didasarkan pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester. Warna merah hati juga nampak pada interior dari bangunan tersebut yang sebagian besar berwarna merah dengan ukiran-ukirannya yang juga berwama merah. Di samping itu dalam akte tanah No. 957, No. 958 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil tersebut milik NV Bouwmaatschapij "Toko Merah".



Bangunan Toko Merah terdiri dari 2 gedung dan sempat beberapa kali berpindah pemilik seperti kepada Jacob Mossel, anak Gubernur Jenderal Mossel yang bernama Phillippine Theodore Mossel; Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, Renier de Klerk, Nicolaas Hartingh, Baron van Hohendorf, dll. Pada tahun 1743-1755 dijadikan Kampus dan Asrama Academie de Marine (akademi angkatan laut), kemudian berpindah tangan lagi. Pada tahun 1786-1808 bangunan ini digunakan untuk Heerenlogementatau hotel para pejabat. Tahun 1809-1813 seluruh bangunan dijadikan rumah tinggal oleh Anthony Nacare. Kurun waktu 1813-1851 kepemilikan beberapa kali berganti hingga kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai taka, sehingga populer dengan sebutan "Taka Merah". 

Berpindah lagi pada Oey Kim Tjiang (gedung utara), Oey Hok Tjiang (gedung selatan), Kultur Hong Hiu Kongsi (seluruh bangunan), digunakan sebagai kantor oleh Borneo Compagnie (1900). Di tahun 1901 bagian-bagian ruang samping rumah sebelah utara diambil untuk membentuk Compagnies kammer di Museum Pusat. Kemudian sebagai kantor Behn Meiwe & Co(1917). Tahun 1920 dibeli dan dipugar oleh NV Bouw Maatschappij "Toko Merah" yang menelan biaya satu juta gulden. Bangunan ini diperbaiki lagi oleh Bank Voor Indie yang kemudian berkantor di sini hingga tahun 1925. 

Kemudian ditempati oleh sejumlah Biro dan Kantor Dagang: Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij, dan WM Muller. & Co. Tahun 1934-1942 menjadi Kantor Pusat N.V. Jacobson vanl den Berg salah satu perusahaan "The Big Five" milik Kolonial Belanda. Di masa pendudukan Jepang menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Ditempati oleh tentara gabungan Inggris-India. Sesudah kemerdekaan menjadi Kantor Dagang Nigeo Eksport. Kemudian di tahun 1946-1957 menjadi kantor N.V. Jacobson van den Berg lagi. 

Saat terjadi nasionalisasi terhadap semua perusahaan asing di Indonesia N.V Jacobson van den Berg diubah menjadi P.T. Yudha Bakti. Ditahun 1961 berubah menjadi P. N. Fajar Bhakti, berubah lagi menjadi P. N. / P. T. Satya Niaga di tahun 1964. Selanjutnya di tahun 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga (Ltd) dan gedung tersebut tetap digunakan sebagai kantor. Toko Merah merupakan rumah mewah terbesar dari abad ke-18 di dalam Kota yang masih dalam keadaan terpelihara baik.


Arsitektur Toko Merah: Gedung Toko Merah dibangun di atas areal seluas 2.455 m2. Bangunan terdiri atas tiga gedung yang menyatu. Bangunan depan (tingkat dua) dan belakang (tingkat tiga), membujur dari utara ke selatan, adapun bangunan tengah merupakan penghubung bangunan utara dan selatan, melintang dari timur ke barat. Arsitektur bangunan mencerminkan perpaduan bangunan Cornice House (bangunan dengan dinding muka yang ujung atasnya datar dan diberi profil-profil pengakhiran) pada abad ke-18 dan atap tropis. Bangunan Toko Merah sebenarnya merupakan bangunan kembar, dua rumah di bawah satu atap. Hal itu terlihat dengan adanya dua buah pintu masuk ke dalam bangunan dan adanya parapat pemisah yang biasa dibuat untuk mencegah apabila terjadi kebakaran tidak menjalar ke gedung sebelahnya.



Bangunan depan dan belakang dihubungkan dengan bangunan satu lantai berplafon dua tingkat. Kedua bangunan ini berhubungan secara terbuka dan secara visual memberi kesan terbagi oleh adanya tujuh buah pilar tembok persegi panjang dan bukaan yang dibingkai architrave berskala tinggi, berukuran 3,5 m x 2,1 m. Bingkai pilar terbuat dari kayu berwarna merah tua dengan garis keemasan. Di lantai dua terdapat tembok tengah sebagai pemisah ruangan atas yang merupakan terusan dari tembok sebelah bawahnya. Tembok itu berlanjut terus hingga mencapai bubungan atap, baik atap depan, tengah maupun belakang. Tembok pemisah itu juga berfungsi sebagai penyangga guna menopang dan mendukung beban atap yang tinggi dan berat. Tembok depan bangunan yang terbuat dari susunan batu bata yang tidak diplester dapat memberikan kesan unik bagi gedung ini.

Gambar Pintu Masuk



Toko Merah memiliki dua buah pintu masuk berukuran besar dan tinggi. Pada bagian atas kedua pintu masuk bangunan terpasang fanlight atau jendela angin yang berada pada satu kusen dengan pintu. Kedua jendela angin kaca di atas pintu (bovenlichten) itupun berpola kotak-kotak dan masing-masing memiliki 30 buah kotak. Semua jendela masih menerapkan gaya abad ke-18 dan berskala monumental guna mengimbangi ruangan-ruangan besar di dalamnya. Kemudian untuk mencapai lantai bagian atas bangunan, terdapat enam buah tangga, kesemuanya berwarna merah hati, terbuat dari kayu terukir artistik. Dari depan bangunan ini seolah hanya memiliki sebuah atap, namun kenyataannya memiliki tiga buah atap. 

Bangunan depan dan belakang memiliki atap dengan bubungan yang memanjang dari utara ke selatan. Sementara atap bangunan tengah, bubungan atapnya melintang dari timur ke barat, sekaligus sebagai atap penghubung bagi kedua atap bangunan depan dan belakang. Atap bangunan berbentuk atap pelana atau atap rumah kampung, terbentuk oleh susunan kerangka kuda-kuda segitiga yang dihubungkan oleh kerangka-kerangka yang membentang di atasnya tetap orientasi susunan kerangka atap ini menyamping dari arah hadap bangunannya. Susunan kerangka tersebut membentuk dua bidang miring yang berbentuk empat persegi panjang yang menjadi tempat dimana penutup atap.

Bangunan Toko Merah memiliki cukup banyak ruangan, baik di lantai dasar, lantai 2 maupun lantai 3. Selain ruang besar (aula) di lantai dasar dan lantai 2, ruang-ruang lain berfungsi sebagai kamar. Di lantai dasar terdapat 16 buah kamar, masing-masing 8 buah di rumah sebelah utara dan 8 buah di rumah sebelah selatan. Di lantai 2 kamarnya berjumlah 4 buah dan terdapat di bangunan bagian belakang. Sementara di tingkat 3 terdapat 5 buah kamar. Bangunan tambahan di areal belakang memiliki sejumlah kamar.

Gedung Toko Merah yang tak di pakai untuk gedung PT. Dharma Niaga terletak di Jl. Kali Besar Barat No.107, Jakarta Barat. Bangunan yang pernah digunakan sebagai rumah kediaman Gubernur Jenderal VOC Baron van Irnhoff tersebut memiliki arsitektur bergaya Barok abad ke-18, terlihat pada elemen cornice dan jendela tinggi yang dominan. Bangunan ini juga merupakan perpaduan gaya klasik Eropa dan Cina, terutama pada ornamen dalam bangunan. 

Unsur Cina berupa warna merah hati ayam cukup dominan pada bangunan ini, baik pada warna tembok depan maupun pada interior dari unsur kayu di dalamnya. Di samping itu terdapat unsur tradisional yang juga terdapat pada bangunan, yang terlihat pada hiasan motif kisi-kisi pipih pada balustrade (jeruji pengaman pada samping tangga), terdapat pada tangga di rumah bagian utara lantai 3. Hiasan semacam itu banyak ditemukan pada balustrade rumah-rumah Melayu. 

Apabila sekarang orang mengenalnya dengan sebutan Toko Merah adalah karena elemen luar dan dalam bangunan didominasi warna merah. Salah satu keunikan lainnya adalah tangga dengan gaya Baroque yang merupakan satus-atunya di Jakarta. Bangunan merupakan penggabungan dari dua bangunan ini menyimpan sejarah yang cukup panjang. Sebelum PD II, bangunan yang terlihat mencolok di antara bangunan di sekitarnya, karena dinding luarnya yang berwarna merah Bangunan ini menerima Penghargaan Sertifikat Sadar Pemugaran 1993.




Sumber : http://www.jakarta.go.id





Senin, 04 Februari 2013

Studio Perancangan Arsitektur 6 (museum)



Studio Perancangan Arsitektur
6



Design by Meyka Widy
Notebook ,Core2 Duo
App : SketchUp Pro 8 + Vray + PS3 + Photoscape

Building : Museum Maritim





Thankyou :)

Minggu, 20 Januari 2013

3D House (Rumah Tinggal)



3D Rumah Tinggal
3D House (Modern Classic)
My Project 


Tampak Depan ( Front )




Perspektif 




Saat ini lagi proses pengerjaan bangunan ini :))
lokasi nya di Bojong gede- Bogor
3D design by Meyka Widy
Sketchup 8 + Render Vray

Results using the 3D rendering application Sketch Up
Thank you :)


Jumat, 18 Januari 2013

Kritik Arsitektur (Kritik Impresionis )


Kritik Arsitektur

   Kritik Interpretif (Interpretive Criticism) yang berarti adalah sebuah kritik yang menafsirkan namun tidak menilai secara judgemental,Kritikus pada jenis ini dipandang sebagai pengamat yang professional. Bentuk kritik cenderung subyektif dan bersifat mempengaruhi pandangan orang lain agar sejalan dengan pandangan kritikus tersebut. Dalam penyajiannya menampilkan sesuatu yang baru atau memandang sesuatu bangunan dari sudut pandang lain. terdiri dari :

1. Kritik Evokatif (Evocative) (Kritik yang membangkitkan rasa)
    Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotografis (gambar).

2. Kritik Advokatif (Advocatory) (Kritik yang membela, memposisikan diri seolah-olah kita adalah arsitek tersebut.)
    Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempersona.

3. Kritik Impresionis (Imppressionis Criticism) (Kritik dipakai sebagai alat untuk melahirkan karya seni baru).
    Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya.1.            Kritik impresionis dapat berbentuk : 
· Verbal discourse (narasi verbal puisi atau prosa). 
· Caligramme (paduan kata)
· Painting (lukisan) 
· Photo image (imagi foto) 
· Modification of building (Modifikasi bangunan) 
· Cartoon (menampilakan gambar bangunan dengan cara yang lebih menyenangkan).

Contoh :
Kritik impressionis
menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya.


Taman Akuarium Air Tawar


Sejarah dari Museum Taman Akuarium Air Tawar TMII (Taman Mini Indonesia Indah)

           Dibangun sejak tahun 1992 dan diresmikan pada tanggal 20 april 1994 . Taman Akuarium ini merupakan taman biota air tawar terbesar dan terlengkap ke dua di dunia serta terbesar di asia. Menyimpan 6.000 ekor 126 spesies , terdiri atas beragam jenis, baik dari berbagai perairan indonesia maupun belahan dunia lain, meliputi tanaman air, reptilia, crustacea, dan ikan. taman akuarium ini dilengkapi museum, perpustakaan, auditorium, akuarium nusantara, pojok reptilia, lorong gurame, dan ruang karantina yang dibangun di bagian belakang untuk pengembangbiakan koleksi dan menampung hasil dari petani yang dapat diperjualbelikan kepada pengunjung, masyarakat umum, penampung ikan, dan eksportir. 

            Taman akuarium juga membuka kesempatan bagi para mahasiswa dan masyarakat umum untuk melakukan penelitiandan observasi berkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan peluang bisnis ikan hias. beberapa koleksi istimewa yang berasal dari air tawar asli indonesia antara lain arwana /siluk (scleropages formosus), hiu gergaji (pristis microdon), tapah (wallago leerii), ikan sumpit, ikan buntal yang dapat menggelembung seperti balon, dan lain-lain. selain itu, terdapat juga koleksi jenis ikan tamu yang mempesona antara lain arapaima (arapaima gigas), piranha (serrasaimus) dari sungai Amazon di amertika, ikan buta, ikan kupu-kupu, ikan chinese high fin (myxocyprinus asiaticus asiaticus) dari sungai yangtze-cina, serta kelompok ikan kecil guppy, molly, dan platy.

·  Photo image


Taman Akuarium Air Tawar merupakan salah satu bangunan kebanggaan bangsa Indonesia yang di bangun di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung , Jakarta Timur.
Bangunan ini mempunyai Tema "Indonesia dan Dunia Air Tawar", fakta lain mengenai bangunan ini adalah merupakan aquarium terbesar kedua di dunia.

Terlihat segar dan sangat indah semua itu di karenakan bangunan ini didominasi oleh warna hijau. Terletak di atas danau buatan yang menambah keeksotisan bangunan tersebut. 



Gambar Tampak Depan Museum Akuarium Air Tawar yang di ambil dari seberang danau yang berada tepat di depan bangunan akuarium air tawar tersebut. Terlihat sangat indah dan kokoh dari bangunan nya tersebut walaupun bangunan ini sudah lama berdiri pada tahun 1992.


Dari gambar ini bisa terlihat fasade bangunan yang di cat finishing dengan menggunakan warna warna yang berani dan mencolok, guna nya untuk menarik minat pengunjung dari dewasa maupun anak-anak tertarik untuk berkunjung ke dalam museum Akuarium Air Tawar.




Dari gambar di atas ini memperlihatkan struktur atap bagian dalam bangunan museum akuarium air tawar. Bangunan Taman Aquarium Air Tawar terdiri atas dua lantai seluas 5.500 m2.



  • Maket Museum Taman Akuarium Air Tawar



Gambar maket dari museum Akuarium Air Tawar yang di buat saya dengan kelompok saya pada mata kuliah Teknik Komunikasi Arsitektur pada semester 4. 







Terima Kasih 
Meyka Widyarsih
21309432
Teknik Arsitektur Gunadarma